Pengembangan Masyarakat

Posted on
Ilustrasi Pengembangan Masyarakat
Sumber Photo: Wikimedia

Pengembangan masyarakat dimaknai sebagai ‘pengembangan sumberdaya manusia’ melalui perluasan horison pilihan bagi masyarakat banyak.

Ini artinya, masyarakat diberdayakan untuk melihat dan memilih sesuatu yang dianggap bermanfaat bagi dirinya.

Pengertian sederhana di atas mengindikasikan bahwa, proses pengembangan dan pemberdayaan pada akhirnya akan memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengadakan pilihan-pilihan.

Sebab, manusia atau masyarakat yang dapat memajukan dan menunjuk pilihan-pilihannya adalah masyarakat yang berkualitas.

Untuk lebih memahami pengertian pengembangan masyarakat sebaiknya kita simak pendapat para ahli di bawah ini:

1. Pengertian Pengembangan Masyarakat Menurut Para Ahli

A. Murray G. Ross

Merupakan suatu proses ketika masyarakat:

  • Berusaha menentukan kebutuhan-kebutuhannya.
  • Menyusun serta mengembangkan kepercayaan (hasrat) untuk memenuhinya.
  • Menentukan sumber-sumber utama (jalan keluar), baik dari dalam atau luar masyarakat itu sendiri.
  • Mengambil tindakan yang diperlukan demi terwujudnya pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya itu.
  • Memperluas praktik kooperatif dan kolaboratif di dalam masyarakat.

B. Edi Suharto

Merupakan salah satu pendekatan pekerjaan sosial (peskos), yang output utamanya adalah perbaikan kualitas hidup masyarakat, melalui pemanfaatan sumber-sumber yang sudah ada pada mereka. Prinsip yang diutamakan adalah pemberdayaan dan partisipasi masyarakat.

C. Yayasan Indonesia Sejahtera

Adalah upaya membangunkan kesadaran masyarakat agar menggunakan semua kemampuan terpendam yang dimiliknya, baik yang berasal di alam (SDA) maupun dalam dirinya (SDM), dan mendorong inisiatif sumber lokal untuk masuk, melakukan proses investasi, demi tercapainya kesejahteraan bersama yang lebih baik.

D. Bhattacarya.

Pengembangan masyarakat adalah pengembangan sumberdaya manusia yang tujuannya meningkatan kemampuan manusia dalam mengelola lingkungannya. Dengan kata lain, usaha untuk membantu warga menumbuhkan kemahiran berorganisasi, berkomunikasi, dan menguasai lingkungan fisiknya. Warga dipacu untuk bisa membuat keputusan dan inisiatif sendiri.

E. AMA

Pengembangan masyarakat adalah strategi untuk memungkinkan masyarakat meningkatkan taraf kualitas hidupnya. Serta membantu warga agar mampu mengintrupsi proses-proses yang berdampak langsung pada kesehariannya (AMA, 1993)

F. Sanders (1958)

Beliau percaya bahwa pengembangan masyarakat adalah sebagai suatu proses kantinyu, bergerak setahap demi setahap, sebuah metode untuk mencapai tujuan dalam prosedur program. Serta sebagai wadah gerakan untuk menyatukan warga secara emosional dan keyakinan.

2. Tujuan Pengembangan Masyarakat

Tujuan pengembangan masyarakat hakikatnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri (Effendy, 1998). Karenanya, pengembangan masyarakat mesti sensitif terhadap yang dirasakan oleh masyarakat, bukan apa yang tertulis dalam angka atau teori.

Jika demikian, ketika ditemukan data dalam bentuk angka yang menjelaskan keadaan masyarakat, maka harus dikompromikan atau dicek kembali dengan kondisi nyata di lokasi, soalnya sering sekali antara teori dengan yang terjadi, ada ketidakcocokan, karena Theory is not a reality.

Selain bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, PM juga mendorong warga agar:

  • Timbul rasa percaya kepada diri sendiri

  • Timbul rasa bangga, gairah, semangat bekerja dan berkontribusi

  • Berpartisipasi dalam dinamika pembangunan masyarakat

Skill yang Diperlukan

Agar tujuan-tujuan PM di atas tercapai dengan baik maka harus menggunakan multidisiplin pengetahuan. Alasannya karena, manusia bersifat dinamis, artinya ia tidak ajeg, senantiasa berubah terus menerus.

Kedinamisan ini berimplikasi pada pendekatan yang dibutuhkan, sehingga kita mampu untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang paling pas.

Beberapa bidang multidisiplin ilmu yang sebaiknya dikuasai dalam pengembangan masyarakat adalah:

  • Engagement: Kemampuan beradaptasi dan berinteraksi dengan beragam individu, kelompok, dan organisasi,

  • Assessment; Kemampuan membuat penilaian, termasuk kebutuhan masyarakat dan profil wilayah.

  • Penelitian; Kemampuan untuk melakukan riset aksi-partisipatif bersama masyarakat.

  • Groupwork; Kemampuan bekerja bersama masyarakat, kelompok sumber dan birokrat.

  • Negosiasi; Kemampuan meyakinkan dan mengajak, termasuk meredakan beragam situasi konflik.

  • Komunikasi; kemampuan menyampaikan pesan dengan baik dan efisien.

  • Konseling; Kemampuan mendengarkan dan memberi masukan, bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat dengan beragam latar belakang.

  • Manajemen sumber; Kemampuan mengatur waktu dan aplikasi-aplikasi memperoleh bantuan.

  • Pencatatan dan pelaporan; Kemampuan administrasi.

  • Monitoring dan evaluasi.

    3. Strategi Pengembangan Masyarakat

Pengembangan masyarakat (community development) dipersepsikan sebagai strategi yang pas dalam memberdayakan serta meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Tapi, perlu diingat bahwa tiap masyarakat punya tradisi dan adat yang berbeda satu dengan lainnya, perbedaan tersebut tak perlu dipandang negatif, justru sebagai potensi untuk dikembangkan sebagai modal sosial.

Dari sana, usaha pengembangan masyarakat membutuhkan strategi dan metode yang tepat. Maksudnya, butuh pembahasan beragam strategi yang pas yang dipilih sebagai cara-cara alternatif dalam proses community development.

A. Pendekatan Chin dan Benne

Chin dan Benne mengemukakan beberapa strategi pengembangan masyarakat diantaranya; rational-empirical, normative-reeducative dan power-coorcive.

  • Rational-empirical memfokuskan berbasis riset oleh para ahli.

  • Sedangkan normative-reeducative kaitannya dengan sistem nilai dan sikap warga komunitas.

  • Terakhir, power-coercive yang lebih menitik-beratkan hubungan relasi kekuasaan. Sayangnya, hubungan kekuasaan tersebut cenderung dipaksakan pada komunitas.

B. Pendekatan Top Down

Asumsi dasar strategi pengembangan masyarakat pada pendekatan “dari atas ke bawah” atau top down adalah bahwa, masyarakat dipersepsikan sebagai komunitas tradisional berpengetahuan rendah. Maka untuk memberdayakan komunitas tersebut perlu pengetahuan dari luar.

Konsekuensi metode yang sifatnya sentralistik ini adalah perencanaan dikerjakan oleh tenaga ahli. Tentu saja, para ahli lebih tersebut nantinya lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang bersifat makro.

Akibatnya, tenaga ahli diperlakukan serta diposisikan lebih tinggi dari masyarakat, yang implikasinya tidak adanya partisipasi dan pemberdayaan, serta akan banyak masalah lokal yang luput, tak terselesaikan.

C. Pendekatan Bottom Up

Sedangkan di sisi lain, metode dari “bawah ke atas” atau bottom up melihat masyarakat (komunitas) bukan sebagai objek pengembangan, mereka tidak dipandang bodoh atau tidak mampu.

Kemampuan dan potensi masyarakat yang sudah ada dimaksimalkan dengan menggunakan pengetahuan lokal ataupun teknologi tepat guna.

Konsekuensi dari pendekatan ini lebih menyorot pada aspek lokalitas, perencanaan dilakukan dengan cara otonomi serta menekankan partisipasi masyarakat. Pertumbuhan ekonomi lebih mengutamakan yang bersifat mikro.

Tenaga ahli diperlakukan sejajar dengan masyarakat, mereka dipandang sebagai fasilitator dan pendamping pemberdayaan masyarakat. Implikasinya akan banyak masalah lokal yang diprioritaskan untuk diselesaikan terlebih dulu.

4. Pengorganisasian dalam Pengembangan Masyarakat

Dalam melaksanakan tugas pengembangan masyarakat, seorang pendamping atau fasilitator mesti mengerti garis besar perencanaan dan langkah-langkah yang dilakukan dengan baik.

6 langkah perencanaan itu adalah:

A. Perumusan masalah.

Pengembangan masyarakat terwujud karena didorong oleh kebutuhan dan masalah masyarakat setempat. Proses perumusan masalah dilakukan dengan memakai survey, wawancara, observasi, diskusi kelompok, forum grup diskusi, dan sebagainya. Pastikan dalam proses ini masyarakat dilibatkan.

B. Penetapan program.

Ketika masalah sudah diidentifikasi kemudian disepakati untuk menjadi prioritas yang perlu diselesaikan, maka rumuskanlah program untuk menangani masalah tersebut.

C. Perumusan tujuan.

Sebuah program bisa terlaksana dengan baik apabila ada tujuan yang dapat diukur, rumuskan apa output dan indikator dari program ingin dicapai.

Tujuan bagus apabila angkanya jelas serta spesifik, sehingga pendekatan yang dipakai pun bisa terukur, yang kemudian disesuaikan dengan dana, waktu dan tenaga yang sudah tersedia.

D. Kelompok sasaran.

Kelompok sasaran merupakan objek atau persoalan yang ingin diselesaikan atau ditingkatkan kualitasnya melalui program yang tersebut.

E. Identifikasi sumber dan tenaga pelaksana.

Sumber merupakan hal-hal yang berguna untuk dimanfaatkan sebagai penunjang program pengembangan, termasuk seperti sarana, sumber dana, dan SDM.

F. Penentuan strategi dan jadwal kegiatan.

Strategi merupakan pendekatan yang bisa digunakan dalam melaksanakan program tersebut.

G. Monitoring dan evaluasi.

Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk menilai proses dan hasil dari pelaksanaan program tersebut.

Penutup

Pengembangan masyarakat sejatinya adalah proses terus menerus tanpa henti. Untuk lebih menguasai term pengembangan masyarakat, sebaiknya fahami pula disiplin ilmu penunjang lainnya, seperti ilmu komunikasi, sosiologi, ekologi, ekonomi, filsafat, dan antropologi.

Salam.

Baca Juga: Istilah-istilah dalam sosiologi

Buku rujukan:

Dr Oos M. Anwas, Pemberdayaan Masyarakat di Era Global

Drs. Abu Hurairah, Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat

Dr. Agus Ahmad Safei, Pengembangan Masyarakat Islam

Edi Suharto, Ph.D. Membangun Masyarakat Memberdayaan Rakyat