Pemberdayaan Masyarakat

Posted on
pemberdayaan masyarakat, prinsip pemberdayaan masyarakat, tujuan pemberdayaan masyarakat, strategi pemberdayaan masyarakat
pemberdayaan masyarakat infografis

Pemberdayaan masyarakat merupakan terjemahan dari istilah empowerment. Di Indonesia, istilah pemberdayaan sudah dikenal sejak tahun 1990-an di banyak NGOs, baru setelah konferensi beijing 1995 pemerintah menggunakan istilah yang sama. Istilah pemberdayaan kemudian berkembang dan menjadi wacana diskusi-diskusi publik lalu seringpula menjadi salah satu kata kunci bagi keberhasilan pembangunan masyarakat.

Seorang peneliti bernama Robert Chambers yang banyak mencurahkan pemikirannya di dunia pemberdayaan berpendapat bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan konsep pembangunan ekonomi yang mencoba merangkul nilai-nilai sosial agar tercipta keberlanjutan.

Pemberdayaan masyarakat mencoba melepaskan diri paradigma lama konsep pembangunan, konsep ini lebih bersifat “people-centered, participatory, empowering, and sustainable” . Dengan demikian lebih luas dari sekedar pemenuhan kebutuhan dasar (basic need) bahkan sampai bisa membuat mekanisme pencegahan kemiskinan atau sebagai jaring pengaman (safety net).

Pemberdayaan tidak mencoba mempertentangkan antara pemerataan dengan pertumbuhan, Donald Brown beragumen bahwa keduanya tak perlu kita asumsikan sebagai “incompatible or antithetical”. Konsep pemberdayaan mencoba membuang pikiran atau asumsi “zero sum game” dan “trade off”. Ia berpendapat bahwa pemerataan justru menciptakan landasan bagi pertumbuhan yang sekaligus menjamin keberlanjutan.

Kirdar dan Silk menguatkan argumen Donald Brow dengan mengatakan “the pattern of growth is just as important as the rate of growth”. Yang dicapai adalah seperti yang dikatakan Ranis, “the right kind of growth”, yakni bukan yang vertikal menghasilkan “trickle down”, seperti yang terbukti tidak berhasil tetapi yang bersifat horizontal (horizontal flows), yakni “broadly based, employment intensive, and not compartementalized ” (Kartasasmita).

1. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat Menurut Para Ahli

Pemberdayaan berasal dari kata bahasa Inggris “empowerment”, yang secara harfiah bisa kita artikan sebagai “pemberkuasaan”, dalam arti pemberian atau peningkatan “kekuasaan” (power) kepada masyarakat yang lemah ataupun masyarakat tidak beruntung (disadvantage).

Mari kita coba telaah beberapa pengertian pemberdayaan menurut para ahli di bawah ini:

  • Menurut Jim Ife pemberdayaan memiliki tujuan meningkatkan “kekuasaan” bagi kaum atau masyarakat lemah (Empowerment aims to increase the power of disadvantage)
  • Sementara menurut Swift dan Levin mengatakan pemberdayaan menunjuk pada usaha pemerataan kekuasaan “realocation of power” melalui proses pengubahan struktur-struktur sosial.
  • Rappaport mengungkapkan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah cara yang mana rakyat atau warga masyarakat mampu menguasai (berkuasa atas) kehidupannya.
  • Craig dan Mayo mengungkapkan bahwa pemberdayaan masih termasuk pada konsep pengembangan masyarakat dan sangat erat terkait dengan konsep kemandirian (self-help), partisipasi (participation), jaringan kerja (networking) dan pemerataan (equity).

A. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat Menurut Ife

Menurut Jim Ife pemberdayaan mengandung dua kata kunci penting, yaitu power yang berarti kekuasaan dan disadvantage yang artinya kelompok lemah. Kekuasaan tidak diartikan hanya sebatas menyangkut kekuasaan politik yang sempit, melainkan kekuasaan atau penguasaan diri dari:

  • Pilihan-pilihan personal klien serta kesempatan-kesempatan hidup: bisa berupa kemampuan memilih keputusan mengenai gaya hidup, pekerjaan dan tempat tinggal.
  • Mendefinisikan kebutuhannya: mampu menentukan kebutuhan yang selaras dengan aspirasi serta keinginannya.
  • Lembaga-lembaga: klien atau kelompok lemah mampu menjangkau, menggunakan serta mempengaruhi pranata-pranata yang ada di masyarakat, contohnya lembaga kesejahteraan sosial, lembaga pendidikan, lembaga kesehatan. Dan lain-lain
  • Ide atau gagasan: Klien bisa mengekspresikan sekaligus menyumbangkan saran dan gagasan ketika berada dalam forum diskusi secara bebas dan tanpa ada tekanan.
  • Sumber-sumber: mampu memobilisasi sumber-sumber formal dan informal yang ada di masyarakat.
  • Aktivitas ekonomi: masyarakat kelompok lemah mampu memanfaatkan sekaligus mengelola mekanisme produksi, pertukaran barang jasa dan distribusi.
  • Reproduksi: klien mampu melewati proses kelahiran, proses merawat anak serta pendidikan secara mandiri

B. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat Menurut Soetarso

Soetarso mencoba menjelaskan pemberdayaan masyarakat menjadi dua pengertian yang saling berkaitan, yaitu:

Pemberdayaan sebagai peningkatan berbagai kemampuan masyarakat

Peningkatan kemampuan, motivasi dan peran-serta unsur-unsur yang ada di masyarakat agar tercipta sumber yang langgeng (berkelanjutan) yang bisa mendukung semua bentuk upaya kesejahteraan sosial. Unsur-unsur masyarakat yang dapat menjadi sumber diantaranya:

Seluruh elemen warga yang selama ini sudah ikut aktif mengabdikan diri dalam upaya kesejahteraan sosial, baik secara perorangan ataupun kelompok-kelompok atau organisasi seperti PSM, relawan sosial, pemuka masyarakat dan agama, anggota orsos/LSM, dunia usaha, universitas, perkumpulan profesi, media massa, termasuk penyandang masalah ataupun mantan penyandang masalah. 

Semua elemen masyarakat, baik perseorangan ataupun kelompok-kelompok organisasi seperti di atas, yang karena alasan-alasan tertentu, tidak atau belum ikut mengabdikan diri dalam upaya kesejahteraan sosial. Biasanya elemen masyarakat yang tidak atau belum aktif dalam upaya kesejahteraan sosial memiliki alasan-alasan berikut ini:

  • Tidak memahami persoalan kesejahteraan sosial, masalah-masalah sosial, dan pengaruhnya, adapula yang sudah faham tentang upaya kesejahteraan sosial namun tidak tahu di mana dan harus bagaimana memberikan bantuan.
  • Pernah membantu upaya pemberdayaan namun kecewa atau dikecewakan, bisa karena tidak ada pembimbing atau merasa hanya jadi sapi perah keuangan ataupun ternyata bantuan darinya dikorupsi.

Pemberdayaan melalui pemanfaatan sumber masyarakat yang telah ditingkatkan kemampuan, motivasi, dan perannya.

Lebih lanjut Soetarso mengungkapkan bahwa peningkatan kemampuan, motivasi, dan peran masyarakat berkaitan dengan:

Pemahaman Lingkungannya

Seorang pemberdaya masyarakat harus mengerti karakteristik pemilik sumber-sumber yang ada di lingkungannya masing-masing, sekaligus memahami kondisi sosial serta budaya di daerah tersebut. Informasi ini bisa sangat membantu pemberdaya untuk menentukan siapa saja yang akan dilibatkan, kendala yang ada dan peluang-peluangnya.

Memahami lingkungan juga bisa membantu upaya pemanfaatan sumber daya serta pendekatan apa yang akan dilakukan. Proses pemahaman lingkungan dapat diperoleh melalui observasi lingkungan baik secara langsung ataupun memanfaatkan pihak ketiga (informan) seperti rekan sekerja (kawan), pemuka masyarakat (adat), pemuka agama, pekerja organisasi lain, klien, dan lain lain.

Pemberian Informasi

Informasi adalah faktor terlemah dalam upaya kesejahteraan sosial saat proses pemberdayaan, meskipun begitu informasi perlu disampaikan dengan terus-menerus agar warga tersadarkan (awareness) akan pentingnya hal tersebut, informasi penting yang mesti disampaikan secara kontinyu adalah yang berkaitan dengan:

  • Masalah sosial dan dampak negatif yang timbul pada kehidupan masyarakat
  • Upaya pendekatan kesejahteraan sosial yang dilakukan untuk mengatasi masalah sosial tersebut
  • Keuntungan keuntungan yang bisa didapat masyarakat, utamanya pemilik sumber, apalagi jika mereka ikut terjun langsung secara kontinyu dalam upaya kesejahteraan sosial.

Meski penyebaran informasi bisa dilakukan melalui bermacam bentuk media seperti pesan singkat (sms, whatsapp atau e-mail) dan media cetak, namun informasi langsung melalui proses tatap muka seperti wawancara dan pertemuan lokal (RT, RW dan Kelurahan) akan jauh lebih efektif ketika berbicara proses pemberdayaan masyarakat atau kesejahteraan sosial.

Dramatisasi Masalah

Beragam bentuk masalah dalam lingkup kesejahteraan sosial seperti kemiskinan, kecacatan, penyalahgunaan narkoba, ketelantaran anak atau manula, tawuran, dan lain-lain. Terutama yang benar-benar ada di tingkat lokal, baiknya didramatisasi sedemikian rupa agar bisa menyentuh perhatian (awareness) masyarakat terkhusus pemilik sumber. Pemberdaya sumber (dan pihak lainnya yang ikut termotivasi) selanjutnya mesti memberikan label “gawat” atau “kritis” terhadap masalah yang dipilih, agar bisa memancing perhatian serta tindakan real dari pihak lain yang sudah dipilih untuk berperan sebagai sumber.

Penggalangan Dukungan

Hambatan pasti akan selalu ada, untuk mengatasinya pemberdaya mesti terlebih dahulu menghimpun dukungan (support) dari berbagai pihak. Terlebih mesti mendapat dukungan dari sumber-sumber yang akan diberdayakan. Dukungan bisa diperoleh melalui pranata-pranta pelayanan sosial yang sudah ada di dalam masyarakat, bisa melalui berbagai aksi penyuluhan sosial, atau bisa juga mengontak individu-individu dalam kelompok atau organisasi yang sebelumnya sudah dikenal oleh pemberdaya.

Pengembangan Momentum

Pemberdayaan masyarakat menjadi melemah apabila pemberdaya tak mampu mempertahankan ataupun mengembangkan output atau hasil yang telah dicapainya. Respon dari pemilik sumber mesti terus ditingkatkan ketika demonstrasi hasil nyata dan pemanfaatan sumber-sumber yang biasanya dilakukan ketika rapat evaluasi laporan pertanggung jawaban. Selain saat rapat evaluasi sebetulnya pertemuan dengan para pemilik sumber bisa dilakukan secara berkala sebagai upaya pengembangan momentum.

Penyediaan Tempat atau Lahan Pengabdian

Untuk mendukung pendekatan tadi, proses ini memerlukan tempat pengabdian nyata, misalnya kampung kumuh, daerah miskin, bentuk-bentuk kecacatan tertentu, panti sosial dan lain-lain. Lahan atau tempat pengabdian ini memungkinkan calon pengabdi untuk melihat sendiri lalu memperoleh penjelasan langsung dari tangan pertama berupa bentuk-bentuk masalah sosialnya dan pendekatan untuk memecahkannya. Selanjutnya para calon pengabdi secara langsung atau tidak langsung dipersilahkan untuk memutuskan bidang pengabdiannya masing-masing, di mana, kapan, bentuk partisipasinya, dan bagaimana.

Pelatihan dan Pengembangan

Pelatihan dan pengembangan dalam konteks pemberdayaan seperti seminar, kunjungan banding dan lokakarya sebaiknya dilakukan setelah pengabdian, hal ini untuk menghindari kesenjangan antara yang dibutuhkan masyarakat dengan materi yang diberikan saat pelatihan. Pelatihan ditentukan berdasarkan assestment kebutuhan masyarakat dan permintaan pengabdi bukan oleh penanggung jawab usaha kesejahteraan sosial seperti depsos atau dinas sosial. Jenis pelatihan, tempat, lama waktu dan kurikulumnya pun ditentukan sendiri oleh pengabdi berdasarkan kebutuhann dan pengalamannya.

C. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat Menurut Sunyoto Usman

Sunyoto Usman mengungkapkan bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah proses dalam upaya memperkuat “Community self Reliance” atau kemandirian komunitas. Pada prosesnya masyarakat didampingi baik saat menganalisis masalah yang dihadapi maupun dibantu agar menemukan alternatif solusi masalah tersebut. Kemudian akan diperlihatkan beragam pendekatan atau strategi menggunakan berbagai sumber daya yang dimiliki dan dikuasai.

Masyarakat akan didampingi merancang kegiatan-kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, bagaimana langkah-langkah untuk mengimplementasikan rancangan tersebut, serta membuat strategi agar mendapatkan sumber-sumber eksternal yang diperlukan sehingga mendapat hasil optimal. Dengan kata lain, dalam proses pemberdayaan prinsip utamanya adalah memberi peluang bagi masyarakat agar memutuskan apa yang mereka butuhkan sesuai dengan pengetahuan, kemauan, dan kemampuannya sendiri

D. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat Menurut Kartasasmita

Kartasasmita memberi pandangan tersendiri tentang pemberdayaan, ia mengungkapkan bahwa memberdayakan merupakan usaha meningkatkan harkat martabat lapisan masyarakat bawah yang kondisinya tidak kuat/mampu untuk melepaskan diri dari jeratan kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain, memberdayakan artinya memampukan serta memandirikan masyarakat.

Usaha memberdayakan masyarakat mesti dilakukan dengan cara:

  • Mengupayakan agar suasana dan iklim dalam proses pemberdayaan memungkinkan potensi masyarakat berkembang. Titik start yang perlu ditekankan adalah setiap manusia di masyarakat mempunyai potensi yang bisa dikembangkan, itu artinya tidak ada warga masyarakat yang sama sekali tak berdaya. Proses pemberdayaan adalah usaha untuk mengembangkan daya itu baik dengan memotivasi ataupun mengembangkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya kemudian berusaha untuk mengembangkannya pada arus yang lebih luas.
  • Mengupayakan kondisi dan iklim kondusif dalam proses pemberdayaan mesti diikuti dengan memperkuat potensi yang dimiliki oleh warga. Oleh karena itu perlu langkah-langkah positif yang nyata, baik yang menyangkut penyediaan beragam masukan maupun membuka beragam akses peluang yang akan membuat warga jadi makin berdaya.
  • Pemberdayaan tak hanya sebatas penguatan individu anggota masyarakat, namun juga penguatan pranata-pranatanya. Bisa dengan cara menanamkan nilai-nilai positif, seperti hemat, kerja keras, tanggung jawab, keterbukaan. Hal ini masuk bagian pokok dari usaha pemberdayaan. Bisa juga melalui proses pembaharuan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan serta mengintegrasikannya dalam kegiatan pembangunan, jangan lupa menyetakan peran dan partisipasi masyarakat di dalamnya.
  • Partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan mesti ditingkatkan. Karena perspektif dasar pemberdayaan masyarakat terkait erat dengan pembudayaan, pemantapan dan pengalaman demokrasi.
  • Pemberdayaan masyarakat juga mempunyai arti melindungi. Oleh karenanya pada proses pemberdayaan, mesti kita pastikan yang lemah tidak bertambah lemah, karena kurang berdaya saat menghadapi yang kuat. Perlindungan dan pemihakan pada yang lemah sangat penting dan mendasar sifatnya. Melindungi bukan berarti mengisolasi atau mengucilkan dari interaksi karena justru hal itu akan mengkerdilkan dan melunglai kan yang lemah. Melindungi juga berarti mencegah terjadinya persaingan yang tidak atau kurang seimbang, ataupun melindungi dari eksploitasi yang kuat terhadap yang lemah.

2. Pemberdayaan Masyarakat Sebagai Proses

A. Tujuan Pemberdayaan Masyarakat

Tujuan pemberdayaan masyarakat pada akhirnya adalah keadilan sosial yang berbentuk ketentraman pada masyarakat serta persamaan politik dan sosial. Melalui upaya saling membantu serta belajar mengembangkan langkah-langkah kecil bersama-sama guna tercapainya tujuan yang lebih besar, ungkap Payne dalam buku modern sosial work theory.

B. Proses Pemberdayaan Masyarakat

Meski tujuan akhir pemberdayaan adalah keadilan sosial namun untuk memberdayakan masyarakat perlu rangkaian proses yang panjang (tidak instan) tujuannya supaya mereka jadi lebih berdaya. Suzanne Kinder Vetter mengungkapkan bahwa “people gaining an understanding of and controlle over social economic and or political forces in order to improve their standing in society”.

Proses pemberdayaan cenderung dikaitkan sebagai salah satu unsur pendorong (driving’s force) dinamika sosial ekonomi dan politik. Padahal pemberdayaan seharusnya dijadikan sebagai “power force” (tenaga utama) dalam mencapai tujuan, salah satunya pengembangan diri (self development).

Secara konseptual, pemberdayaan harus mencakup enam hal sebagai berikut:

  • Learning by doing. artinya, pemberdayaan merupakan proses belajar dan tindakan konkrit yang terus-menerus, yang dampaknya dapat kita lihat atau terukur.
  • Problem solving. pemberdayaan mesti memberikan output atau berhasil menjadi unsur utama pemecahan masalah yang krusial dengan pendekatan serta waktu yang tepat.
  • Self evaluation, proses pemberdayaan mesti mampu memberikan dorongan seseorang atau kelompok tersebut melakukan evaluasi secara mandiri.
  • Self development and coordination. Artinya proses pemberdayaan harus mendorong supaya warga atau seseorang mampu menggembangkan diri secara mandiri dan bisa melakukan koordinasi dengan pihak terkait lainnya secara lebih luas.
  • Self Selection. Proses pemberdayaan mesti bisa memberikan “pertumbuhan” (kaderisasi) dalam diri kelompok sehingga bisa melakukan pemilihan dan penilaian secara mandiri ketika menetapkan langkah-langkah selanjutnya.
  • Self Decisim. Proses pemberdayaan harus mampu memberikan kepercayaan diri pada warga ketika memilih tindakan yang tepat dan memutuskan sesuatu secara mandiri.

Keenam unsur tersebut merupakan proses pemberdayaaan, proses tersebut jika dilakukan secara berkelanjutan (kontinyu) maka akan memberikan pengaruh yang dapat memperkuat kesejahteraan masyarakat dan apabila sudah kuat diharapkan bisa terjadi proses pemberdayaan secara lebih luas dan mandiri atau biasa disebut snowball effect.

C. Tahapan Pemberdayaan Masyarakat

Proses pemberdayaan mesti melalui beberapa tahapan terperinci seperti yang diungkap Aziz berikut ini:

  • Tahap pertama. Pendamping atau pekerja sosial membantu masyarakat untuk menemukan masalah yag dimilikinya.
  • Tahap kedua. Menganalis secara mendalam tentang masalah tersebut dengan pendekatan partisipatif. Metode yang biasa digunakan adalah diskusi terarah (focus group discussion), curah pendapat dan mengadakan pertemuan secara rutin berkelanjutan.
  • Tahap ketiga. Ketika curah pendapat akan ada banyak masalah yang tercurahkan, untuk itu pada tahap ini lakukan skala prioritas dengan memilih masalah yang paling mendesak (urgen) untuk diselesaikan.
  • Tahap keempat. Mencari solusi penyelesaian masalah yang dihadapi dengan mengutamakan pendekatan sosio-kultular yang ada di masyarakat.
  • Tahap kelima. Mengimplementasikan tindakan nyata yang sudah disepakati sebelumnya, lalu menyelesaikan masalah bersama-sama.
  • Tahap keenam. Tahap ini adalah tahap evaluasi seluruh rangkaian kegiatan pemberdayaan untuk menilai dan menyimpulkan indikator keberhasilan yang telah dicapai.

3. Strategi Pemberdayaan Masyarakat

Strategi pemberdayaan masyarakat dalam perspektif pekerjaan sosial dapat dilakukan dengan tiga aras atau tiga matra pemberdayaan. Suharto mengungkapkan terkait tiga aras tersebut, yaitu mikro, mezzo dan makro:

A. Aras Mikro.

Dalam perspektif mikro, strategi pemberdayaan mikro difokuskan kepada klien per-individu yaitu dengan metode konseling, bimbingan, stress management dan crisis intervention. Output dari strategi ini adalah melatih klien agar menjalankan tugas-tugas kehidupannya. Model ini sering disebut juga sebagai metode atau pendekatan yang berpusat pada tugas atau task centered approach.

B. Aras Mezzo.

Strategi ini difokuskan pada sekelompok klien. Kelompok menjadi media intervensi dalam strategi pemberdayaan. Metode yang dipilih adalah pendidikan, pelatihan dan dinamika kelompok.
Pendekatan ini digunakan untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap klien. Tujuannya agar mereka mempunyai kecakapan dalam memecahkan beragam permasalahan yang dihadapinya.

C. Aras makro.

Strategi pemberdayaan aras makro memiliki output pada perubahan sistem yang lebih luas. Sering disebut juga dengan strategi sistem besar (large system strategy). Beberapa strategi dan pendekatan yang digunakan semisal aksi sosial, lobbying, perngorganisasian masyarakat, manajemen konflik dan kampanye.
Klien diposisikan sebagai orang yang sudah faham dan kompeten tentang situasi yang mereka hadapi, selain itu mereka memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan pendekatan yang pas dan tepat untuk bertindak.

4. Prinsip Pemberdayaan Masyarakat

Untuk memahami prinsip pemberdayaan masyarakat sebaiknya kita telaah dan kaji pendapat dari Dubois dan Miley ini:

A. Prinsip Membangun Relasi Pertolongan

Dubois dan Miley berpendapat bahwa pada prinsipnya pemberdayaan merupakan proses membangun relasi pertolongan yang mereflesksikan sikap empati seorang pekerja sosial, serta menghargai berbagai pilihan klien untuk menentukan nasibnya sendiri. Selain itu, seorang pekerja sosial mesti bisa menghargai perbedaan (keunikan) tiap individu dalam hal ini klien dan menjalin kerjasama yang berkelanjutan.

B. Prinsip Membangun Komunikasi

Seorang pekerja sosial maupun pendamping sosial mesti menghormati harkat dan martabat klien dengan cara membangun komunikasi empatik dan berfokus pada keunikan tiap individu. Serta bisa menjaga kerahasiaan persoalan/masalah yang menimpa klien.

C. Partisipasi Masyarakat

Baca Juga:

Klien mesti dilibatkan dalam semua aspek proses pemberdayaan, baik saat menentukan strategi pemecahan masalah maupun saat pembuatan keputusan dan evaluasi. Seorang pekerja sosial harus mampu membuat klien ikut berpartisipasi menyelesaikan tantangan demi tantangan sebagai proses pembelajaran.

D. Menjujung Tinggi Kode Etik Profesi Pekerja Sosial

Seorang pendamping pemberdayaan masyarakat mesti merefleksikan nilai dan sikap profesi pekerja sosial dengan cara menaati kode etik profesi yang dilakoninya, ikut melakukan pengembangan riset dan perumusan kebijakan. Pekerja pendamping pun harus bisa menerjemahkan kesulitan-kesulitan individu klien menjadi isu publik. Dan terakhir, mesti berusaha menghapus berbagai bentuk diskriminasi dan tidak setaranya kesempatan.

Sumber:

Huraerah, Abu. 2011 Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat.  Bandung: Humaniora.

Suharto, Edi. 2010 Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung: Refika Aditama 

https://en.wikipedia.org/wiki/Community_development