Masyarakat Primitif

Posted on
Masyarakat primitif, ciri-ciri masyarakat primitif, masyarakat primitif di Indonesia
Gambar Hanya Ilustrasi, Sumber: Pixabay

Pengertian Masyarakat Primitif

Masyarakat primitif, sebutan tersebut biasanya dinisbatkan pada komunitas manusia yang menjalani kehidupan dengan sangat sederhana.

Dalam komunitas primitif perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan belum berkembang secara pesat, malahan masih terbatas pada usaha menemukan dan menghasilkan bahan makanan sebagai pemenuhan kebutuhan hidup.

Hal ini berimplikasi pada hasil produksi yang bisa dibilang masih rendah jika dibandingkan dengan masyarakat modern.

Umumnya masyarakat primitif mencari bahan makanan dengan cara berburu hewan karena mereka belum mengenal adanya sistem ekonomi jual-beli atau barter.

Rasa ketergantungan satu sama lain masih kuat. Individualitas dalam komunitas primitif hampir tidak pernah ada.

Komunitas primitif lazimnya memiliki anggota yang terbatas, tidak lebih dari puluhan atau ratusan orang, mereka bertempat tinggal sangat terpencil dan jauh dari masyarakat lainnya, penyebabnya karena keadaan lingkungan yang terisolasi oleh alam dan cukup sulit untuk dijangkau.

Masyarakat primitif yang hidup terisolir secara turun temurun, bisa dipastikan tidak mengalami perubahan sejak nenek moyangnya sampai saat ini.

Mereka mengalami keterasingan dengan dunia luar, tidak mengenal membaca dan menulis, pemahaman dan perspektif mereka berasal dari cerita-cerita lisan yang didapatkan secara turun-temurun.

Masyarakat primitif masih homogen, tidak ada diferensiasi sosial, dan lagi solidaritas masyarakat bersifat solidaritas mekanik, yang artinya anggota masyarakat memiliki satu kepercayaan dan ikatan emosional yang sama.

Komunitas primitif tidak menggunakan energi listrik dan lampu, makanya mereka fokus menjalani kehidupan saat siang dan beristirahat kala malam.

Ciri-ciri dan Kehidupan Beragama Masyarakat Primitif

Dalam hal kepercayaan atau agama, mereka cenderung animisme yaitu meyakini kepercayaan yang telah dianut oleh leluhurnya terlebih dahulu.

Kepercayaan yang sangat kuat tersebut membuat masyarakat primitif acapkali kekeuh atau ajeg, mereka tak ingin melanggar hal-hal yang sudah menjadi hukum atau adat istiadat nenek moyangnya.

Berikut beberapa ciri dan pandangan keagamaan yang ada pada masyarakat primitif

Pandangan tentang Alam Semesta

Mereka mengangap alam semesta sebagai subjek. Yak betul, alam dimaknai seolah memiliki jiwa, berpribadian dan bersifat personal.

Misalnya, ketika terjadi letusan gunung berapi, masyarakat primitif menganggap bahwa “sang penguasa” gunung sedang marah.

Mereka menanggapi peristiwa itu adalah dengan memberi sesajen dan mengadakan ritual, tujuannya untuk menenangkan “sang penguasa” gunung.

Menganggap Keramat Objek, Tempat dan Benda

Ciri lain keber-agama-an suku primitif ialah, mudah mengkeramatkan benda dan objek tertentu. Contoh, memandang keramat sesuatu yang memberi kemanfaatan, kebaikan ataupun musibah.

Misalkan, ketika ada yang menempati tempat tinggal baru, lalu berselang kemudian penghuni rumahnya terkena penyakit.

Mereka beranggapan bahwa penyebab sakit penghuni rumah karena pengaruh “mahluk halus” yang tinggal di rumah mereka, mereka langsung berinisiatif membuat satu ritual tertentu, yang tujuannya mengusir “makhluk halus” itu, agar nantinya tidak ada lagi yang terganggu. Prakteknya biasanya dengan menyuguhkan “sesajen”.

Hidup Serba Magis

Ciri lain masyarakat atau komunitas primitif yaitu, suka menghubung-hubungkan sesuatau dengan hal-hal “gaib”.

Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan yang terjadi, suku primitif mengaitkannya dengan hal yang magis.

Menurut teorinya Comte, masyarakat ini masih ada pada tahap mitos. Artinya, masyarakat yang pada hidupnya selalu mengubungkan segala sesuatu dengan hal-hal magis.

Penuh dengan Upacara-upacara Keagamaan

Terakhir, ciri hidup mereka adalah sering diadakannya upacara keagamaan.

Misalkan, di waktu datang musim panen, komunitas ini tidak menganggap angin lalu hal tersebut. Mereka berkeyakinan bahwa dewi padi yang membantunya.

Oleh karena itu, kala musim panen datang, disediakanlah sesajen yang khusus dipersembahkan untuk dewi sri ini, sebagai bentuk dan rasa terimakasih kepadanya.

Masih adakah Masyarakat Primitif? Khususnya di Indonesia?

Perkembangan ilmu dan pengetahuan yang begitu pesat, menyisakan sedikit tanda tanya, yaitu;

Masih adakah suku primitif di zaman sekarang ini? Khususnya di Indonesia?

Jawabannya Iya dan tidak.

Saya ragu, apa pasalnya? Karena masyarakat yang benar-benar terpencil, mulai terbuka dengan perubahan, sebutan primitif pun rasanya sudah tidak pas dan etis.

Lebih tepat jika menggunakan istilah masyarakat adat.

Jika Anda jalan-jalan ke daerah terpencil, Anda akan menemukan kenyataan bahwa anak-anak dari komunitas adat mulai bersekolah layaknya anak-anak biasa.

Ini terjadi karena, hutan tempat mereka berlindung dan mencari bahan makanan dirusak, kemudian diganti dengan kelapa sawit (dimiskinkan).

Untuk bisa bertahan hidup, mereka dipaksa berubah, menjadi bagian dari masyarakat modern, dengan segala permasalahannya.

Renungan

Meskipun masyarakat primitif hidup sangat sederhana dan penuh dengan cerita mitos, tapi mereka terbebas dari berbagai masalah yang dialami masyarakat perkotaan yang katanya modern.

Coba pikir.

  • Mereka tidak mengenal kaya dan miskin.

  • Mereka tidak punya hutang.

  • Tidak membuat polusi dan kerusakan lingkungan

  • Tidak pernah hidup stress

  • Tidak ada bom bunuh diri

  • Tidak ada korupsi

  • Tidak ada kelaparan

  • Tidak menghabiskan waktu di jalan dengan macet-macetan

  • Tidak makan junkfood

Sebetulnya siapa yang primitif itu?

Facebook Comments