Memahami Masyarakat Perkotaan: Apa Komunitas Urban itu?

Posted on
pengertian masyarakat perkotaan
Sumber photo: Pixabay

Silahkan baca artikel ini jika anda sedang mencari pengertian masyarakat perkotaan.

Oke, hal pertama yang mesti kita fahami adalah definisi kata ‘urban’ dan ‘komunitas’ itu sendiri.

Urban dalam kamus bahasa Indonesia artinya perkotaan, sementara komunitas merupakan persamaan kata dari masyarakat (society). Jika demikian maka komunitas urban = masyarakat perkotaan.

Istilah masyarakat perkotaan sendiri dalam sosiologi punya dua kualifikasi. Yaitu, kualifikasi fisik dan kualifikasi sosial.

A. Kualifikasi Fisik Masyarakat Urban

Secara fisik, disebut masyarakat perkotaan itu apabila sebuah kawasan memiliki jumlah penduduk yang padat dan wilayahnya berukuran luas.

Namun, apakah cukup mendefinisikan masyarakat perkotaan dari jumlah wilayahnya yang luas dan penduduknya padat?

Sayangnya tidak, menggambarkan komunitas urban hanya dari kondisi fisik memiliki kelemahan, yaitu ketidaksamaan standar antar satu negara dengan negara lainnya.

Saya ambil contoh, di India disebut “kota” apabila terbentuk sebuah otoritas pemerintah lokal seperti kotamadya (municipality), kecamatan (cantonment board) dan kelurahan (notified area committees).

Berbeda dengan India, di tempat lainnya disebut ‘kota’ apabila penduduknya minimal berjumlah 5000 orang, 75% profesinya bukan petani, dan tiap 1 km persegi setidaknya dihuni 900 orang.

Oleh karena itu, dibutuhkan kualifikasi lain untuk mendefinisikan masyarakat urban, yaitu kualifikasi sosial.

B. Kualifikasi Sosial Masyarakat Urban

Untuk memahami komunitas urban secara sosial, adalah dengan melihat gaya hidupnya. Kata urban sendiri selain diartikan perkotaan, juga bermakna gaya hidup.

Gaya hidup yang dimaksud, biasanya terkait dengan cara berpakaian, variasi barang yang digunakan, interaksi sesama manusia dan pengetahuan serta pandangan politik tertentu.

Sialnya, menggambarkan komunitas urban hanya dari aspek ‘gaya hidup’ kadang menjebak juga. Toh sekarang, gaya hidup dan interaksi sosial masyarakat desa hampir mirip dengan masyarakat kota. 

Lalu bagaimana?

Penyebutan masyarakat perkotaan, harus memenuhi kualifikasi fisik dan kualifikasi sosial, yaitu komunitas/kumpulan manusia yang tinggal di wilayah luas, penduduknya padat, memiliki beragam profesi dan menjalani gaya hidup khas individual serta bervariasi.

Lantas, apa bedanya dengan masyarakat pedesaan (rural)? 

C. Memahami Urban dan Rural

Sorokin dan Zimmermann menegaskan perbedaan yang mencolok masyarakat desa dan kota yaitu dari cara menjalani hidupnya. Menurutnya, kebanyakan masyarakat yang tinggal di pedesaan bekerja berkaitan dengan alam. Misalkan, bertani dan beternak.

Sedangkan, masyarakat perkotaan memiliki profesi yang bervariasi.

Sorokin dan Zimmermann pun menjelaskan karateristik masyarakat perkotaan. Diantaranya;

  • Punya wilayah yang luas
  • Penduduknya padat
  • Heterogen (majemuk)
  • Memiliki diferensiasi dan stratifikasi sosial
  • Sering terjadi mobilitas sosial
  • Memiliki interaksi sosial yang unik nan-semu.

Perubahan dari Desa (Rural) Menjadi Semi Kota (Sub-Urban)

Daerah yang kita klasifikasikan pedesaan (rural) seiring berjalannya waktu bisa berubah menjadi perkotaan (urban), ini karena antar kota dan desa saling mempengaruhi.

Saya ambil contoh kota/kab Bekasi. Bekasi tahun 80-an secara kualifikasi dikategorikan pedesaan, karena jumlah penduduknya sedikit, wilayahnya kecil dan kebanyakan berprofesi sebagai petani.

Semua berubah ketika negara api Jakarta tidak mampu lagi menampung warganya, supaya bisa tetap mencari nafkah dan bertahan hidup, banyak warga Ibukota yang pindah ke Bekasi dan membeli rumah.

Akibatnya, jumlah masyarakat bekasi bertambah, dan profesi warganya jadi beragam. Makanya, sekarang agak kurang tepat jika kita sebut Bekasi sebagai daerah rural, lebih cocok jika kita sebut sub-urban.

Jika dipikir-pikir, semakin kesini garis pembatas antara masyarakat perkotaan (urban) dan pedesaan (rural) semakin menipis. Dinamika sosial berupa peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan ekonomi dan pengembangan ilmu pengetahuan pada akhirnya akan mengubah pedesaan menjadi perkotaan, ya kan?.

Penutup

Dikotomi masyarakat urban dan rural saat ini memang masih relevan. Sayangnya, dinamika sosial yang terjadi di masa yang akan datang bakal mengaburkan itu semua.

Stuart A. Queen dan David B. Carpenter berpendapat bahwa secara gradual masyarakat pedesaan berubah setahap demi setahap, sehingga nanti kita akan kesulitan membedakan antara masyarakat desa dan kota.

Ditambah Gist and Halbert yang meyakinkan saya, dengan mengatakan bahwa pemahaman kota dan desa hanyalah teori atau konsep yang pijakannya berasal dari fakta-fakta yang ditemukan dalam kehidupan masyarakat, pijakan fakta itu pun saling bertentangan satu dengan lainnya.

Setiap pedesaan pasti punya satu atau lebih karakteristik perkotaan, sebaliknya tiap kota punya karakter pedesaan. Misal, daerah “kampung kota” yang punya kekhasan pedesaan.

Intinya?

Masyarakat perkotaan (urban) diidentifikasi sebagai kelompok manusia yang tinggal di sebuah wilayah besar, padat, profesinya beragam, dan heterogen.

Sementara masyarakat desa (rural) adalah kelompok manusia yang tinggal di sebuah wilayah kecil, penduduknya sedikit, profesinya rata-rata bertani dan penduduknya homogen.

Teorinya begitu, dan tentu kita faham, Betul?

Pertanyaan selanjutnya adalah; Apa indikator besar, padat, profesinya beragam, dan heterogen sehingga layak disebut kota? Bagaimana cara mengukurnya?

Aih, itu bahasan dalam artikel lain ya, salam.

Catatan: Tulisan ini merupakan opini berdasarkan pengamatan sederhana, jika ada kecacatan logika dan salah data, silahkan komentar di bawah.

Baca Juga: Masalah Sosial di Indonesia

Facebook Comments